![]() |
| Suasana di Terminal Penumpang Pelabuhan Dumai (f: dok) |
JEJAKREDAKSI.COM – Kota Dumai, Provinsi Riau,
diduga menjadi salah satu titik favorit atau “surga” keberangkatan
Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal menuju Malaysia. Fenomena ini
mencuat setelah terjadinya lonjakan signifikan jumlah penumpang di
Terminal Pelabuhan Internasional Pelindo Dumai pasca Hari Raya Idul Adha
1447 Hijriah/2026.
Berdasarkan informasi dari narasumber
terpercaya, peningkatan arus keberangkatan didominasi oleh calon PMI
nonprosedural dengan rute Dumai–Port Dickson dan Dumai–Muar yang
disebut-sebut menjadi tujuan utama.
“Biasanya habis Lebaran Idul
Adha terjadi lonjakan PMI ilegal yang kembali bekerja di Malaysia,
khususnya melalui rute Dumai–Port Dickson dan Dumai–Muar,” ujar sumber
yang enggan disebutkan namanya, Senin (23/6/2026).
Hasil
penelusuran di lapangan menunjukkan bahwa mayoritas penumpang diduga
berasal dari luar Provinsi Riau. Kondisi ini memunculkan pertanyaan
publik terkait alasan Dumai dipilih sebagai titik keberangkatan, serta
apakah pelabuhan di daerah lain tidak lagi menjadi opsi.
Dugaan
sementara mengarah pada kemudahan proses yang ditawarkan, sehingga Dumai
menjadi jalur favorit, termasuk bagi mereka yang tidak melalui prosedur
resmi. Praktik percaloan pun disebut berlangsung secara terbuka.
Investigasi
media ini menemukan adanya dugaan praktik sistematis dalam pengurusan
dokumen keberangkatan, mulai dari pembelian tiket, pengurusan cap
paspor, hingga proses naik ke kapal.
“Semuanya bisa diatur,” ungkap sumber tersebut.
Bahkan,
praktik tersebut diduga melibatkan pemberian “uang pelicin” kepada
oknum aparat, termasuk pihak terkait di lingkungan keimigrasian.
Menanggapi
hal ini, Pemerhati sosial Mufaidnuddin, menyebut persoalan PMI ilegal
di Pelabuhan Internasional Dumai bukanlah hal baru.
Ia
mencontohkan, pada Juni 2026 lalu, Direktorat Polisi Perairan dan Udara
(Ditpolairud) Polda Riau berhasil menggagalkan keberangkatan empat calon
PMI nonprosedural ke Malaysia di Pelabuhan Pelindo Dumai.
“Artinya
ada dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dalam setiap
aktivitas keberangkatan melalui jalur internasional di Dumai,” ujar
Mufaidnuddin, Rabu (24/6/2026).
Dalam kasus tersebut, aparat
mengamankan seorang pria berinisial J yang diduga berperan sebagai calo
sekaligus penghubung jaringan TPPO. Pengungkapan bermula dari laporan
masyarakat terkait aktivitas mencurigakan di pelabuhan.
Direktur
Polairud Polda Riau, Kombes Pol Apri Fajar Hermanto, menjelaskan bahwa
tim melakukan penyamaran sebelum akhirnya mendapati pelaku tengah
membagikan paspor kepada empat calon PMI.
“Para korban diarahkan
untuk memberikan keterangan palsu kepada petugas imigrasi, dengan alasan
kunjungan keluarga agar dapat lolos pemeriksaan,” jelasnya.
Polisi
juga mengungkap adanya sosok berinisial S yang diduga sebagai
pengendali jaringan dan kini masih dalam pengejaran. S disebut berada di
wilayah Lampung dan berperan dalam proses perekrutan hingga
pemberangkatan.
Dari tangan pelaku, polisi menyita sejumlah
barang bukti, di antaranya empat paspor, tiket kapal tujuan Malaysia,
satu unit telepon genggam, serta ratusan tangkapan layar percakapan yang
berkaitan dengan perekrutan PMI ilegal.
Apri menegaskan, wilayah
perairan Riau yang berbatasan langsung dengan negara tetangga masih
rawan dimanfaatkan jaringan perdagangan orang.
“Para korban sangat rentan mengalami eksploitasi dan kehilangan perlindungan hukum jika bekerja tanpa prosedur resmi,” tegasnya.
Sementara
itu, Mufaidnuddin juga menyoroti adanya dugaan aliran dana ilegal atau
praktik pungutan liar dalam pengurusan dokumen keberangkatan, yang
nilainya disebut-sebut mencapai angka fantastis setiap bulan.
“Kami
mendesak aparat penegak hukum segera melakukan audit dan penyelidikan
menyeluruh. Jika terbukti, ini menunjukkan lemahnya pengawasan dan
perlunya reformasi sistem pelayanan publik, khususnya di sektor
keimigrasian,” tegasnya.
Untuk menjaga keberimbangan informasi,
redaksi membuka ruang hak jawab kepada pihak-pihak terkait guna
memberikan klarifikasi atas berbagai dugaan yang berkembang di tengah
masyarakat. (tim/red)











0 Komentar